SURVIVING NEW NORMAL WITH RECP:

“Melawan Pandemi melalui Efisiensi Sumberdaya dan Produksi Bersih untuk Industri Sejahtera Mensejahterakan Rakyat”
Better Enterprises | Cleaner Environment | Green Economy

Serial ZOOMINAR | 03 – 05 Agustus 2020

Komitmen Global untuk Bumi masa depan

Tahun 2015 adalah tahun dimana adanya transisi paradigma atas pembangunan berkelanjutan dan komitmen global terkait perubahan iklim. Perpanjangan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/ MDGs), yang diadopsi di Summit Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 2000, menjadi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) dengan target-target yang baru. SDGs merupakan rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia termasuk Indonesia, dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan melalui 17 target yang dirancang melibatkan seluruh pelaku pembangunan dengan prinsip utamanya “Tidak meninggalkan satu orangpun” untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Terkait dengan agenda menghadapi Perubahan Iklim, di dalam Konferensi antar Negara (COP) di Paris tahun 2015, telah disepakati pula perjanjian global untuk perubahan iklim dengan tujuan menahan peningkatan temperatur global mencapai 2 derajat celcius. KetuaPBB untuk Perubahan Iklim, Christina Figures, mendorong pelaku usaha untuk mencari solusi yang memungkinkan untuk mengubah praktek bisnis menuju karbon netral secepatnya. Hal ini penting karena pelaku usaha juga berkontribusi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai pentingnya penerapan ekonomi rendah emisi. Seperti prinsip dari SDGs itu sendiri, “Tidak meninggalkan satu orangpun”, berarti, dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan dibutuhkan peran aktif dari setiap kelompok dan golongan, termasuk dari pihak pemerintah, industri, dan masyarakat. Salah satu Tujuan SDG ke-12 yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggungjawab dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kegiatan ekonomi melalui efisiensi sumber daya, dan mengurangi dampak lingkungan sepanjang rantai nilai, dan pada saat yang bersamaan, meningkatkan kualitas hidup manusia dan alam beserta seisinya.

Salah satu program yang dipromosikan oleh badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bergerak di bidang Lingkungan (United Nations Environment Programme /UNEP) dan badan PBB yang bergerak di bidang Industri (United Nations Industrial Organization /UNIDO), yang bertujuan untuk mengembangkan industri dalam menghadapi transisi ekonomi yang bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dan sosial melalui Resource Efficiency and Cleaner Production (RECP). Pendekatan RECP dapat mendukung pencapaian tujuan SDGs lainnya dalam seperti tujuan ke-6,9, 11, 13, dan 15.

RECP atau Efisiensi Sumber Daya dan Produksi Bersih, merupakan upaya yang terintegrasi dan terus menerus untuk mencegah dampak lingkungan dengan menggunakan teknik produksi total terhadap proses, produk dan layanan yang lebih efisien dan mengurangi resiko kerusakan terhadap manusia dan lingkungan. Beberapa hal tersebut dapat dicapai dengan menfokuskan pada aspek efisiensi produksi, manajemen lingkungan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Program RECP di Indoensia

Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Pemerintah Swiss (SECO) dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dalam mengimplementasikan RECP di Indonesia dengan menunjuk Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) sebagai pelaksana tunggal program ini dari tahun 2018 – 2020 dengan adanya lima (5) keluaran dalam program RECP ini, yaitu:

  1. RECP Capacity and Network
  2. RECP Implementation and Replication
  3. RECP Policy and Regulatory Framework
  4. RECP Technology and Innovation
  5. RECP Investment and Finance.

Adapun industri dan lokasi yang telah menjadi kesepakatan untuk penerapannya adalah:

  1. Industri Tekstil dan Garmen di Jawa Barat dan Jawa Tengah
  2. Industri Pariwisata (Hotel & Desa Wisata) di Jogjakarta dan Jawa Tengah
  3. Kawasan Industri di Serang dan Ujung Pandang
  4. Industri Pengolahan Padi (Rice mill) di Karawang.

Beberapa indikator kesuksesan program RECP ini dapatdilihat dari data dari kegiatan yang dilakukan di industri tekstil:

  1. Adanya pengurangan gas CO2 dikarenakan implementasi opsi yangdilakukan, yaitu sebesar 354,282 tons.
  2. Adanya penghematan penggunaan energi panas berdasarkan laporan tahunan, yaitu sebesar 273,021,324 MJ.
  3. Adanya penghematan pemakaian listrik berdasarkan laporan tahunan, yaitu sebesar 63,869 MWh.
  4. Adanya penghematan pemakaian batu bara per tahunnya, yaitu sebanyak 123,919 tons.
  5. Adanya Penghematan pemakaian diesel per tahun, yaitu dengan total 1,559 tons
  6. Adanya penghematan pemakaian air per tahun sebesar 2,580,234 m3 (data lengkapnya tidak tersedia karena adanya kekurangan meteran air di beberapa unit.
  7. Adanya pengurangan penggunaan bahan kimia dan material di sebagian kecil unit.

Pandemi COVID-19 dan Keberlanjutan Program RECP di Indonesia

Program RECP di Indonesia atas dukungan UNIDO dan SECO akan berakhir di tahun 2020, bertepatan dengan pandemik virus COVID-19 tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Banyak pihak membicarakan bagaimana hubungan kegiatan-kegiatan dan praktek-praktek berwawasan lingkungan dengan pandemic ini. Selain itu, apa yang harus dilakukan sebagai pemerintah, organisasi, institusi, industry, Pendidikan, riset, bahkan warga negara. Tidak sedikit yang menyimpulkan bahwa pandemic ini adalah sebagai ungkapan amarah bumi karena manusia sudah berbuat seenaknya terhadap seluruh ciptaan yang kemudian mengganggu ekosistem yang telah tercipta dengan baik dan berkesinambungan.

Dengan berbekal pengalaman dan hasil yang diperoleh atas pendampingan terhadap industri yang terpilih, sebagai langkah selanjutnya, untuk keberlanjutan Program RECP di Indonesia, akan diadakan kegiatan serial seminar yang diadakan secara virtual selama tiga hari berturut-turut dengan topik yang saling menguatkan, khususnya untuk industri.

Adapun tujuan rangkaian seminar ini dibuat adalah:

  • Untuk membagikan pembelajaran (“lessons learned” dan “best practices”) yang telah dilakukan oleh tim PPBN sebagai pelaksana program RECP di Indonesia.
  • Untuk memperkenalkan kembali konsep metodologi RECP dan bagaimana RECP dapat menjadi metode / alat yang baik bagi industri, khususnya di dalam menjalankan produksi di masa “New Normal” sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih menguntungkan bagi in-dustri, pekerja, komunitas, dan lingkungan sekitarnya, termasuk menunjang pencapaian pembangunan rendah karbon Indonesia dan tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) 12.
  • untuk mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan yang dapat menunjang industri-industri di dalam pencapaian target perusahaannya melalui penerapan efisiensi sumberdaya dan produksi bersih dengan menjunjung tinggi semangat sinergitas dan harmoni.

Pelaksanaan Rangkaian Seminar Online (Webinar melalui Zoom)

Pelaksanaan rangkaian seminar ini akan dilakukan melalui media Zoom Webinar selama tiga (3) hari berturut-turut), yaitu pada hari Senin – Rabu, 03 - 05 Agustus 2020 dengan tema yang berbeda-beda, sebagai berikut:

Hari Pertama, Senin, 3 Agustus 2020
Tema: Getting to know RECP in Indonesia

Sesi 1: Showcase RECP implementation in Indonesia
Tak kenal maka tak sayang..

Setelah beberapa tahun pelaksanaan RECP di Indonesia, PPBN sebagai pelaksana program, akan memberikan beberapa paparan atas pembelajaran (tantangan, kesulitan, kesempatan, dan keberhasilan) dari penerapan RECP di tiga sektor yaitu Industri Tekstil dan Garmen, Kawasan Industri,

dan Industri Pariwisata (Hotel dan Desa Wisata). Dengan memberikan contoh praktek dan hasil penerapan, diharapkan dapat memperkenalkan konsep metodologi RECP dengan lebih baik sehingga semakin banyak industri dan juga pemangku kepentingan yang dapat mengenal RECP dengan lebih baik lagi. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa RECP dapat meningkatkan kinerja perusahaan tidak hanya untuk profit, melainkan juga untuk pekerja, masyarakat sekitar, dan juga untuk pemeliharaan lingkungan dan iklim bumi ini.

Terkait dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, sebagai salah satu agenda global dan nasional, penerapan RECP ini, dapat menunjang pencapaian beberapa tujuan, secara khusus di tujuan ke-12 yaitu produksi dan konsumsi yang berkelanjutan dan bertanggungjawab. Selain itu, RECP juga dapat ditinjau sebagai salah satu cara untuk mencapai pembangunan rendah karbon Indonesia (LCDI).

Narasumber:

  1. Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KLHK
  2. Kahatex – Demo Unit di sektor tekstil
  3. H&M Indonesia – International Buyer for Textile
  4. National Expert untuk demo unit di Sektor Parawisata Yogyakarta
  5. Dinas Parawisata Sleman, Yogyakarta
  6. FX. Guruh, Jessica Hanafi, Yosephine DMW – Mengukur Capaian RECP dengan Standar

Moderator:
Ketua Dewan Pengurus, PPBN

 

Sesi 2: RECP in different sectors: Implementation & Challenges
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian..

Penerapan apapun, tentunya membutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Alangkah indahnya jika dilakukan bersama-sama secara harmonis dan sinergi. Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran atas apa yang sudah dilakukan sebelumnya dan apa yang dapat dilakukan kemudian, serta apa yang dibutuhkan. Dari hasil diskusi ini, kemudian akan dipaparkan dalam plenary untuk kemudian disimpulkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan RECP yang dapat menjadi bahan untuk dipaparkan / didiskusikan di hari selanjutnya dalam rangkaian seminar RECP. Diskusi akan dilakukan secara kelompok dengan membaginya menjadi beberapa kelompok. Tekstil

Fasilitator:
PPBN & Team

Moderator:
PPBN

Hari Kedua, Selasa, 4 Agustus 2020
Tema: RECP & Finance

Sesi 1: National / International Financial Schemes

Salah satu yang menjadi tantangan dan kebutuhan di dalam menerapkan suatu program baru ataupun metode baru, pastinya akan membutuhkan perencanaan yang baik, termasuk juga di dalam perencanaan keuangan. Dalam hal ini, untuk penerapan RECP, secara khusus untuk perusahaan kecil dan menengah, selain melakukan beberapa evaluasi ataupun perubahan di dalam standar operasionalnya, kemungkinan akan membutuhkan pendanaan tambahan untuk bisa lebih meningkatkan penerapan efisiensinya.

Pada sesi pertama, akan dipaparkan beberapa mekanisme pembiayaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dimanfaatkan oleh industri / perusahaan untuk menerapkan RECP.

Narasumber:

Pendanaan dari Multilateral Perubahan Iklim & SDGs, BKF, Kemenkeu
Mekanisme Pembiayaan LH, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup
Pendanaan dari Mekanisme Karbon, JCM Implementation di Indonesia
Bursa Efek / Sustainable Finance, OJK (tbc)
Sustainable Finance & SDGs Indonesia One, PT. SMI (Persero) (tbc)

Moderator:
SR Asia

Sesi 2: Match making between Industry & Bank

Salah satu unit finansial yang sangat erat hubungannya dengan industri adalah bank. Oleh karena itu, di sesi ini akan diberikan kesempatan bagi industri untuk dapat berdiskusi terkait kriteria-kriteria yang telah disusun oleh beberapa bank swasta dan bumn yang mempunyai program-program menunjang kegiatan-kegiatan berwawasan lingkungan.

Sesi ini akan dimulai dengan breakout session, yang kemudian akan ditutup dengan sesi plenary sambil mengumpulkan hasil diskusi untuk kemudian disimpulkan.

Fasilitator:
PPBN & Team

Moderator:
API

Hari Ketiga, Rabu, 5 Agustus 2020
Tema: RECP & Beyond

Setelah mengenal, berbagi, dan mendapatkan pencerahan terkait dengan pendanaan, pada hari terakhir rangkaian seminar, akan dipaparkan bagaimana sinergi antara RECP dan perangkat-perangkat lainnya untuk keberlanjutan terkait dengan kinerja perusahaan, operasional, industri, alur pikir / mindset, dan produktifitas pekerja. Penyampaian hubungan sinergi RECP ini diharapkan dapat memperkaya industri untuk menerapkan RECP di industrinya masing-masing. Selain itu, di-harapkan agar RECP juga dapat membantu penerapan perangkat keberlanjutan (sustainability tools) lainnya.

Selain itu, sebelumnya akan dipaparkan juga bagaimana RECP ini dapat mendukung pencapaian perencanaan-perencanaan nasional seperti Pembangunan Nasional Rendah Karbon atau disebut dengan LCDI yang sudah tertuang di dalam RPJMN 2020-2024, khususnya di dalam masa-masa New Normal ini.

Pada akhirnya, di dalam menutup rangkaian seminar RECP ini, akan dilakukan pelaksnaaan ker-jasama dengan IBCSD untuk melanjuti pelaksanaan RECP di Indonesia setelah program RECP yang didukung oleh SECO dan UNIDO ini berakhir. Selain itu, PPBN – IBCSD juga membuka kerjasama dengan asosiasi industri atau pihak lainnya yang ingin menerapkan sekaligus mempromosi RECP untuk diterapkan oleh industri di Indonesia. Semakin banyak industri yang dapat dan mau men-erapkan RECP, semakin bersih langit Indonesia dan juga semakin sehat serta produktif pekerja In-donesia.

Narasumber:

A. BAPPENAS
B. KLHK

1. PROPER, KLHK
2. Green Industry, Kemenperin
3. Green Building Council Indonesia (tbc)
4. Green Chemistry - UNDIP

Moderator:
PPBN

HOSTS & CO-HOST
Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
UNIDO
SECO

ORGANIZER
Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) – Program RECP Indonesia

MITRA
Pusat Indutri Hijau, Kementerian Perindustrian

PESERTA

  • Perwakilan Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Bisnis / Pelaku Usaha
  • Asosiasi Usaha
  • Pengamat Industri
  • Universitas /Akademi
  • Pusat Studi Lingkungan Hidup di Perguruan Tinggi
  • LSM
  • Organisasi Internasional / Donor

Zoom:
Address Zoom Hari Pertama, https://bit.ly/SeminarNasionalH1
Address Zoom Hari Kedua, https://bit.ly/SeminarNasionalH2
Address Zoom Hari Ketiga, https://bit.ly/SeminarNasionalH3

RECP
Share this post: 

Funded by

Implemented by

In Partnership with